Rahasia di Balik Penemuan Kacamata

Minggu, 24 Mei 2009


Rahasia di Balik Penemuan Kacamata

Kacamata merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Setiap peradaban mengklaim sebagai penemu kacamata. Akibatnya, asal-usul kacamata pun cenderung tak jelas dari mana dan kapan ditemukan.



Lutfallah Gari, seorang peneliti sejarah sains dan teknologi Islam dari Arab Saudi mencoba menelusuri rahasia penemuan kacamata secara mendalam. Ia mencoba membedah sejumlah sumber asli dan meneliti literatur tambahan. Investigasi yang dilakukannya itu membuahkan sebuah titik terang. Ia menemukan fakta bahwa peradaban Muslim di era keemasan memiliki peran penting dalam menemukan alat bantu baca dan lihat itu.

Lewat tulisannya bertajuk The Invention of Spectacles between the East and the West, Lutfallah mengungkapkan, peradaban Barat kerap mengklaim sebegai penemu kacamata. Padahal, jauh sebelum masyarakat Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurut dia, dunia Barat telah membuat sejarah penemuan kacamata yang kenyataannya hanyalah sebuah mitos dan kebohongan belaka.

''Mereka sengaja membuat sejarah bahwa kacamata itu muncul saat Etnosentrisme,'' papar Lutfallah. Menurut dia, sebelum peradaban manusia mengenal kacamata, para ilmuwan tdari berbagai peradaban telah menemukan lensa. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kaca.

Lensa juga dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Berdasarkan bukti yang ada, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), tapi untuk pembakaran. Caranya dengan memusatkan cahaya matahari pada fokus lensa/titik api lensa.

Oleh karena itu, mereka menyebutnya dengan nama umum "pembakaran kaca/burning mirrors". ''Hal ini juga tercantum dalam beberapa literatur yang dikarang sarjana Muslim pada era peradaban Islam,'' tutur Lutfallah. Menurut dia, fisikawan Muslim legendaris, Ibnu al-Haitham (965 M-1039 M), dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazir (tentang optik) telah mempelajarai masalah perbesaran benda dan pembiasan cahaya.

Ibnu al-Haitam mempelajari pembiasan cahaya melewati sebuah permukaan tanpa warna seperti kaca, udara dan air. "Bentuk-bentuk benda yang terlihat tampak menyimpang ketika terus melihat benda tanpa warna". Ini merupakan bentuk permukaan seharusnya benda tanpa warna," tutur al-Haitham seperti dikutip Lutfallah.

Inilah salah satu fakta yang menunjukkan betapa ilmuwan Muslim Arab pada abadke-11 itu telah mengenali kekayaan perbesaran gambar melalui permukaan tanpa warna. Namun, al-Haitham belum mengetahui aplikasi yang penting dalam fenomena ini. Buah pikir yang dicetuskan Ibnu al-Haitham itu merupakan hal yang paling pertama dalam bidang lensa.

Paling tidak, peradaban Islam telah mengenal dan menemukan lensa lebih awal tiga ratus tahun dibandingkan Masyarakat Eropa. Menurut Lutfallah, penemuan kacamata dalam peradaban Islam terungkap dalam puisi-puisi karya Ibnu al-Hamdis (1055 M- 1133 M). Dia menulis sebuah syair yang menggambarkan tentang kacamata. Syair itu ditulis sekitar200 tahun, sebelum masyarakat Barat menemukan kacamata. Ibnu al-Hamdis menggambarkan kacamata lewat syairnya antara lain sebagai berikut:

''Benda bening menunjukkan tulisan dalam sebuah buku untuk mata, benda bening seperti air, tapi benda ini merupakan batu. Benda itu meninggalkan bekas kebasahan di pipi, basah seperti sebuah gambar sungai yang terbentuk dari keringatnya,'' tutur al-Hamdis.

Al-Hamdis melanjutkan, ''Ini seperti seorang yang manusia yang pintar, yang menerjemahkan sebuah sandi-sandi kamera yang sulit diterjemahkan. Ini juga sebuah pengobatan yang baik bagi orang tua yang lemah penglihatannya, dan orang tua menulis kecil dalam mata mereka.''

Syair al-Hamids itu telah mematahkan klaim peradaban Barat sebagai penemu kacamata pertama. Pada puisi ketiga, penyair Muslim legendaris itu mengatakan, "Benda ini tembus cahaya (kaca) untuk mata dan menunjukkan tulisan dalam buku, tapi ini batang tubuhnya terbuat dari batu (rock)".

Selanjutnya dalam dua puisi, al-Hamids menyebutkan bahwa kacamata merupakan alat pengobatan yang terbaik bagi orang tua yang menderita cacat/memiliki penglihatan yang lemah. Dengan menggunakan kacamata, papar al-Hamdis, seseorang akan melihat garis pembesaran.

Dalam puisi keempatnya, al-Hamdis mencoba menjelaskan dan menggambarkan kacamata sebagai berikut: "Ini akan meninggalkan tanda di pipi, seperti sebuah sungai". Menurut penelitian Lutfallah, penggunaan kacamata mulai meluas di dunia Islam pada abad ke-13 M. Fakta itu terungkap dalam lukisan, buku sejarah, kaligrafi dan syair.

Dalam salah satu syairnya, Ahmad al-Attar al-Masri telah menyebutkan kacamata. "Usia ua datang setelah muda, saya pernah mempunyai penglihatan yang kuat, dan sekarang mata saya terbuat dari kaca." Sementara itu,sSejarawan al-Sakhawi, mengungkapkan, tentang seorang kaligrafer Sharaf Ibnu Amir al-Mardini (wafat tahun 1447 M). "Dia meninggal pada usia melewati 100 tahun; dia pernah memiliki pikiran sehat dan dia melanjutkan menulis tanpa cermin/kaca. "Sebuah cermin disini rupanya seperti lensa,'' papar al-Sakhawi.

Fakta lain yang mampu membuktikan bahwa peradaban Islam telah lebih dulu menemukan kacamata adalah pencapaian dokter Muslim dalam ophtalmologi, ilmu tentang mata. Dalam karanya tentang ophtalmologi, Julius Hirschberg , menyebutkan, dokter spesialis mata Muslim tak menyebutkan kacamata. ''Namun itu tak berarti bahwa peradaban Islam tak mengenal kacamata,'' tegas Lutfallah. desy susilawati


Eropa dan Penemuan Kacamata

Pada abad ke-13 M, sarjana Inggris, Roger Bacon (1214 M - 1294 M), menulis tentang kaca pembesar dan menjelaskan bagaimana membesarkan benda menggunakan sepotong kaca. "Untuk alasan ini, alat-alat ini sangat bermanfaat untuk orang-orang tua dan orang-orang yang memiliki kelamahan pada penglihatan, alat ini disediakan untuk mereka agar bisa melihat benda yang kecil, jika itu cukup diperbesar," jelas Roger Bacon.

Beberapa sejarawan ilmu pengetahuan menyebutkan Bacon telah mengadopsi ilmu pengetahuannya dari ilmuwan Muslim, Ibnu al-Haitam. Bacon terpengaruh dengan kitab yang ditulis al-Haitham berjudul Ktab al-Manazir Kitab tentang Optik. Kitab karya al-Haitham itu ternyata telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Ide pembesaran dengan bentuk kaca telah dicetuskan jauh sebelumnya oleh al-Haitham. Namun, sayangnya dari beberapa bukti yang ada, penggunaan kaca pembesar untuk membaca pertama disebutkan dalam bukunya Bacon.

Julius Hirschberg, sejarawan ophthalmologi (ilmu pengobatan mata), menyebutkan dalam bukunya, bahwa perbesaran batu diawali dengan penemuan kaca pembesar dan barulah kacamata tahun 1300 atau abad ke-13 M. "Ibnu al-Haitham hanya melakukan penelitian mengenai pembesaran pada abad ke - 11 M," cetusnya Hirschberg.

Kacamata pertama disebutkan dalam buku pengobatan di Eropa pada abad ke-14 M. Bernard Gordon, Profesor pengobatan di Universitas Montpellier di selatan Perancis, mengatakan di tahun 1305 M tentang tetes mata (obat mata) sebagai alternatif bagi orang-orang tua yang tidak menggunakan kacamata.

Tahun 1353 M, Guy de Chauliac menyebutkan jenis obat mata lain untuk menyembuhkan mata, dia mengatakan lebih baik menggunakan kacamata jika obat mata tidak berfungsi.

Selain para ilmuwan di atas, adapula tiga cerita yang berbeda disebutkan oleh sarjana Italia, Redi (wafat tahun 1697). Cerita pertama, disebutkan dalam manuskrip Redi tahun 1299 M. Disebutkan dalam pembukaan bahwa pengarang adalah orang yang sudah tua dan tidak bisa membaca tanpa kacamata, yang ditemukan pada zamannya.

Cerita kedua, juga diceritakan oleh Redi, menunjukkan bahwa kacamata disebutkan dalam sebuah pidato yang jelas tahun 1305 M, dimana pembicara mengatakan bahwa perlatan ini ditemukan tidak lebih cepat dari 20 tahun sebelum pidato tersebut diungkapkan.

Cerita ketiga, menyebutkan bahwa biarawan (the monk) Alexander dari Spina (sebelah timur Itali) belajar bagaimana menggunakan kacamata. Dia wafat tahun 1313 M.

Akhirnya tiga versi cerita berbeda tersebut menyebarluas, karena banyak buku lain yang mengadopsi cerita-cerita yang disebutkan Redi setelah dia wafat. Namun, beberapa sejarahwan ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Redi telah membuat cerita bohong dan mereka tidak percaya.

Bahkan, dalam buku Julius Hirschberg, juga disebutkan tentang cerita Redi itu, ditulis antara tahun 1899 dan 1918 di Jerman dan banyak informasi yang sudah tua dan banyak yang diperbaharui. Buku tersebut kemudian diterjemahkan (tanpa revisi) ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan tahun 1985. Hasilnya, cerita Redi menyebar di Inggris, artikel penelitian itu ditolak kebenaran ceritanya dan ini ditolak Julius Hirschberg.

Beberapa cerita bohong lain juga ditulis oleh seorang jurnalis di pertengahan abad ke 19 M. Dia mengklaim Roger Bacon merupakan penemu kacamata seperti. Bahkan ia juga menyebutkan bahwa biarawan (the Monk) Alexander juga telah diajarkan Roger Bacon bagaimana menggunakan kacamata. Kabar ini tentu saja dengan cepat menyebar.

Kebohongan lain juga terlihat pada sebuah nisan. Seorang pengarang menunjukkan bahwa sebuah nisan di kuburan Nasrani yang berada di gereja, tertulis sebuah kalimat, "disini beristirahat Florence, penemu kacamata, Tuhan mengampuni dosanya, tahun 1317". Masih banyak cerita atau mitos lainnya tentang penemu dan pembuatan kacamata di Eropa. Semua mengklaim sebagai penemu pertama alat bantu baca dan melihat itu. she/taq

Terusin Bacanya......

Izl4m?c_ ArtiC3L



BIOGRAFI IBNU QOYIM AL-JAUZIYAH

الكتاب : مفتاح دار السعادة

NAMA DAN NASAB BELIAU

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdullah Syamsuddin Muhammad Abu Bakr bin Ayyub bin Sa’d

bin Huraiz bin Makk Zainuddin az-Zur’i ad-Dimasyqi dan dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al

Jauziyah.



Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Dia tumbuh dewasa dalam suasana ilmiah yang kondusif. Ayahnya adalah kepala sekolah al-Jauziyah di Dimasyq (Damaskus) selama beberapa tahun. Karena itulah, sang ayah digelari Qayyim al-Jauziyah. Sebab itu pula sang anak dikenal di kalangan ulama dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyah.



PERJUANGAN DALAM MENUNTUT ILMU

Dia memiliki keinginan yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Tekad luar biasa dalam mengkaji dan menelaah sejak masih muda belia. Dia memulai perjalanan ilmiahnya pada usia tujuh tahun. Allah mengkaruniainya bakat melimpah yang ditopang dengan daya akal luas, pikiran cemerlang, daya hapal mengagumkan, dan energi yang luar biasa. Karena itu, tidak mengherankan jika dia ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai lingkaran ilmiah para guru (syaikh) dengan semangat keras dan jiwa energis untuk menyembuhkan rasa haus dan memuaskan obsesinya terhadap ilmu pengetahuan. Sebab itu, dia menimba ilmu dari setiap ulama spesialis sehingga dia menjadi ahli dalam ilmu-ilmu Islam dan mempunyai andil besar dalam berbagai disiplin ilmu.



GURU-GURUNYA

Ibnu Qayyim telah berguru pada sejumlah ulama terkenal. Mereka inilah yang memiliki pengaruh dalam pembentukan pemikiran dan kematangan ilmiahnya. Inilah nama guru-guru Ibnu Qayyim.



1. Ayahnya Abu Bakr bin Ayyub (Qayyim al-Jauziyah) di mana Ibnu Qayyim mempelajari ilmu faraid. Ayahnya memiliki ilmu mendalam tentang faraid.



2. Imam al-Harran, Ismail bin Muhammad al-Farra’, guru mazhab Hanbali di Dimasyq. Ibnu Qayyim belajar padanya ilmu faraid sebagai kelanjutan dari apa yang diperoleh dari ayahnya dan ilmu fikih.

3. Syarafuddin bin Taimiyyah, saudara Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah. Dia menguasai berbagai disiplin ilmu.

4. Badruddin bin Jama’ah. Dia seorang imam masyhur yang bermazhab Syafi’i, memiliki beberapa karangan

5. Ibnu Muflih, seorang imam masyhur yang bermazhab Hanbali. Ibnu Qayyim berkata tentang dia, “Tak seorang pun di bawah kolong langit ini yang mengetahui mazhab imam Ahmad selain Ibnu Muflih.”

6. Imam al-Mazi, seorang imam yang bermazhab Syafi’i. Di samping itu, dia termasuk imam ahli hadits dan penghafal hadits generasi terakhir.

7. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah Ahmad bin al-Halim bin Abdussalam an-Numairi. Dia memiliki pengaruh sangat besar dalam kematangan ilmu Ibnu Qayyim. Ibnu Qayyim menyertainya selama tujuh belas tahun, sejak dia menginjakkan kakinya di Dimasyq hingga wafat. Ibnu Qayyim mengikuti dan membela pendapat Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya penyiksaan yang menyakitkan dari orang-orang fanatik dan taklid kepada keduanya, sampai-sampai dia dan Ibnu Taimiyyah dijebloskan ke dalam penjara dan tidak dibebaskan kecuali setelah kematian Ibnu Taimiyyah.





DISIPLIN ILMUNYA

Disiplin ilmu yang didalami dan dikuasainya hampir meliputi semua ilmu syariat dan ilmu alat. Ibnu Rajab, muridnya, mengatakan, “Dia pakar dalam tafsir dan tak tertandingi, ahli dalam bidang ushuluddin dan ilmu ini mencapai puncak di tangannya, ahli dalam fikih dan ushul fikih, ahli dalam bidang bahasa Arab dan memiliki kontribusi besar di dalamnya, ahli dalam bidang ilmu kalam, dan juga ahli dalam bidang tasawuf.”1 Dia berkata juga, “Saya tidak melihat ada orang yang lebih luas ilmunya dan yang lebih mengetahui makna Al-Qur’an, Sunnah dan hakekat iman daripada Ibnu Qayyim. Dia tidak makshum tapi memang saya tidak melihat ada orang yang menyamainya.”2

Ibnu Katsir berkata, “Dia mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, dan ushul fikih.”3

Adz-Dzahabi berkata, “Dia mendalami hadits, matan dan perawinya. Dia menggeluti dan menganalisa ilmu fikih. Dia juga menggeluti dan memperkaya khasanah ilmu nahwu, ilmu ushuluddin, dan ushul fikih.”4

Ibnu Hajar berkata, “Dia berhati teguh dan berilmu luas. Dia menguasai perbedaan pendapat para ulama dan mazhab-mazhab salaf.”5

As-Suyuthi berkata, “Dia telah mengarang, berdebat, berijtihad dan menjadi salah satu ulama besar dalam bidang tafsir, hadits, fikih, ushuluddin, ushul fikih, dan bahasa Arab.”6



‘ Dzail Thabqaat al-Hanabilah (IV 448). 2 Dzail Thabqaat al-Hanabilah (11/450). 3Al-Bidayah wa an-Nihayah (XIVI202).



4 Al-Mu ‘jam al-Mukhtash li Syuyukhihi, huruf mim, sebuah manuskrip.



5 Ad-Durar al-Kaminah (IV/21). 6Baghyah ad-Du’a (1/63).







Ibnu Tughri Burdi berkata, “Dia menguasai beberapa cabang ilmu, di antaranya tafsir, fikih, sastra dan tatabahasa Arab, hadits, ilmu-ilmu ushul dan furu’. Dia telah mendampingi Syaikh Ibnu Taimiyyah sekembalinya dari Kairo tahun 712 H dan menyerap darinya banyak ilmu. Karena itu, dia menjadi salah satu tokoh zamannya dan memberikan manfaat kepada umat manusia.”7





MURID-MURIDNYA



Manusia mengambil manfaat dari ilmu Ibnu Qayyim. Karena itu, dia memiliki beberapa murid yang menjadi ulama terkenal. Di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Al-Burhan Ibnu Qayyim. Dia adalah putra Burhanuddin Ibrahim, seorang ulama nahwu dan fikih yang mempuni. Dia belajar dari ayahnya. Dia telah berfatwa, mengajar, dan namanya dikenal. Metodenya sama dengan sang ayah. Dia memiliki keahlian dalam bidang tatabahasa Arab. Karena itu, dia menulis komentar atas kitab Alfiyah IbniMalik. Kitab komentar (syarh) itu dia namakan Irsyad al-Salik ila Halli Alfiyah Ibni Malik.



2. Ibnu Katsir. Dia adalah Ismail ‘Imaduddin Abu al-Fida’ bin ‘Umar bin Katsir ad- Dimasyqi asy-Syafi’i, seorang imam hafizh yang terkenal.

3. Ibnu Rajab. Dia adalah Abdurrahman Zainuddin Abu al-Faraj bin Ahmad bin Abdurrahman yang biasa digelar dengan Rajab al-Hanbali. Dia memiliki beberapa karangan yang bermanfaat.

4. Syarafuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia adalah putra Abdullah bin Muhammad. Dia sangat brilian. Dia mengambil alih pengajaran setelah ayahnya wafat di ash- Shadriyah.

5. As-Subki. Dia adalah Ali Abdulkafi bin Ali bin Tammam as-Subki Taqiyuddin Abu al-Hasan.

6. Adz-Dzahabi. Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Usman bin Qayimaz adz- Dzahabi at-Turkmani asy-Syafi’i. Dia adalah seorang imam, hafizh yang memiliki banyak karangan dalam hadits dan Iain-lain.



7. Ibnu Abdulhadi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah bin Ahmad bin Abdulhadi al-Hanbali. Dia adalah seorang hafizh yang kritis.



8. An-Nablisi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah an-Nablisi al- Hanbali. Dia mempunyai beberapa karangan, di antaranya kitab Mukhtashar Thabaqat al-Hanabilah.



9. Al-Ghazi. Dia adalah Muhammad bin al-Khudhari al-Ghazi asy-Syafi’i. Nasabnya sampai kepada Zubair bin Awwam r.a.



10. Al-Fairuzabadi. Dia adalah Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi asy-Syafi’i. Dia pengarang sebuah kamus dan karangan-karangan lain yang baik.



1 An-Nujum az-Zahirah fi Akhbar Mishr wa al-Qahirah (X/249).





KARYA KARYANYA



Ibnu Qayyim adalah orang yang sangat banyak mengarang buku. Hal inilah yang menyebabkan inventarisasi karya-karyanya secara teliti menjadi sulit. Inilah daftar buku-buku karangannya yang diberikan para ulama.



1. Al-Ijtihad wa at-Taqlid. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Miftah Dar As-Sa’adah.

2. Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah. Telah dicetak berulang kali.

3. Ahkam Ahl adz-Dzimmah. Telah dicetak dalam dua jilid yang ditahkik oleh Shubhi ash-Shalih.

4. Asma’ Muallafat Ibnu Taimiyyah. Sebuah disertasi yang diterbitkan atas tahkik Shalahuddin al-Minjid.

5. Ushul at-Tafsir. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Jala’ al-Afham.

6. Al-A’lam bi Ittisa ‘i Thuruq al-Ahkam. Dia menyebutkannya dalam kitab Ighatsah al-Luhfan.

7. A’lam al-Muaqqi ‘in ‘an Rabb al-Alamin. Telah dicetak berulang kali dalam empat jilid.

8. Ighatsah al-Luhfan min Mashadir asy-Syaithan. Telah berkali-kali dicetak dalam dua jilid.

9. Ighatsah al-Luhfan fi Hukm Thalaq al-Ghadban. Sebuah disertasi yang telah dicetak atas tahkik Muhammad Jamaluddin al-Qasimi.

10. Iqtida’ adz-Dzikr bi Hushul al-Khair wa Daf’i asy-Syar. Ash-Shufdi menyebutkannya dalam kitab al-Wafi bi al-Wafiat (11/271) dan Ibnu Tughri Burdi dalam kitab al-Manhal ash-Shafi 011/62), sebuah manuskrip.

11. Al-Amali al-Makkiyah. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Badai’u al- Fawaid.

12. Amtsal al-Qur’an. Telah tercetak.

13. Al-Ijaz. Pengarang kitab Kasyf azh-Zhunun (1/206) dan al-Baghdadi dalam kitab Hadiah al-Arifin (11/158) menisbahkannya kepada Ibnu Qayyim.

14. Badai’ al-Fawaid. Tercetak dalam dua jilid.

15. Buthlan al-Kimiya’ min Arba’in Wajhan. Buku ini telah diisyaratkan oleh Ibnu Qayyim dalam buku Miftah Dar as-Sa ‘adah.

16. Bayan al-Istidlal ‘ala Buthlan Isytirath Muhallil as-Sibaq wa an-Nidhal. Kitab ini telah disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab A’lam al- Muwaqqi’in. Dan juga ash-Shufdi dalam kitab al-Wafi bi al-Wafiyat (11/271) dan Ibnu Rajab dalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah (11/450) telah menyebutkannya dengan nama ad-Dalil ‘ala Istighnai al-Musabaqah ‘an at- Tahlil.

17. At-Tibyan fi Aqsam al-Qur’an. Telah dicetak beberapa kali.

18. At-Tahbir lima Yahillu wa Yahrum min Libas al-Harir. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Zad al-Ma ‘ad.

19. At-Tuhfah al-Makkiyah. Dia menyebutkannya dalam berbagai tempat dalam kitab Badai’u al-Fawaid.



20. Tuhfah al-Maududfi Ahkam al-Maulud. Telah dicetak berulang kali.



21. Tuhfah an-Nazilin bi Jiwar Rabb al-Alamin. Dia menyebutkannya dalam kitab Madarij as-Salikin.



22. Tadbir ar-Riasah fi al-Qawaid al-Hukmiyah bi adz-Dzaka’ wa al-Qarihah. Al- Baghdadi menyebutkannya dalam kitab al-Idhah al-Maknun fi adz-Dzail ‘ala Kasyf azh-Zhunun (1/271).



23. At-Ta’liq ‘ala al-Ahkam. Ibnu Qayyim mengisyaratkannya dalam kitab Jala’ al- Afham.

24. At-Tafsir al-Qayyim. Ini adalah tulisan terpisah-pisah dalam tafsir Syaikh Muhammad Uwais an-Nadawi dalam satu jilid. Tapi, dia tidak mencakup semua ucapan Ibnu Qayyim dalam tafsir. Namun, itu adalah suatu usaha yang patut mendapat pujian.

25. Tafdhil Makkah ‘ala al-Madinah. Ibnu Rajab dalam kitab adz-Dzail (11/450), ad- Dawudi dalam kitab Thabaqat al-Mufassirin (11/193), Ibnu al-’Ammad dalam kitab Syadzarat al-Dzahab (6/178) dan al-Sakhawi dalam kitab al-A’lam bi at- Taubikh (him. 280) telah menyebutkannya, tapi dengan nama Tafdhil Makkah.

26. Tahdzib Mukhtashar Sunan Abi Daud. Telah dicetak bersama dengan kitab Mukhtashar al-Mundziri dan syarahnya Ma ‘alim as-Sunan oleh al-Khatthabi dalam delapan jilid.

27. Al-Jami’ bain as-Sunan wa al-Atsar. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Badai’u al-Fawaid.



28. Jala’u al-Afhamfi ash-Shalat wa as-Salam ‘ala Khair al-Anam. Telah dicetak berkali-kali di Mesir dan India.



29. Jawabat Abidi ash-Shalban wa Anna ma Hum ‘alaih Din asy-Syaithan. Ibnu Rajab dalam kitab adz-Dzail (11/450), ad-Dawudi dalam kitab ath-Thabaqat (IV 93) dan Ibnu al-’Ammad dalam kitab asy-Syadzarat (VI/179) menyebutkannya.



30. Al-Jawab asy-Syafi li man Sa ‘ala ‘an Tsamarah ad-Du ‘a idza Kana ma Quddura Waqi’un. Asy-Syaukani menyebutkannya dalam kitabal-Badrath-Thali’(1V144).



31. Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah. Telah dicetak berkali-kali.



32. Al-Hamil, Hal Tahidhu am La. Ibnu Qayyim telah menyinggung masalah ini dalam kitab Tahdzib Sunan at-Tirmidzi.



33. Al-Hawi. Ahmad ‘Ubaid dalam kata pengantar kitab Rawudah al-Muhibbin berkata, “Ibnu Hajar al-Asqallani telah menyebutkannnya dalam kitab Fath al- Bari, juz XI”



34. Hurmah as-Sima’. Haji Khalifah dalam kitab Kasyf azh-Zhunun (1/650) dan al- Baghdadi dalam kitab Hadiyah al-Arifin (11/158) telah menyebutkannya.



35. Hukm Tarik ash-Shalah. Telah berkali-kali dicetak.

36. Hukm Ighmam HilalRamadhan. Ibnu Rajab dalam kitab adz-Dzail (11/450), ad- Dawudi dalam kitab ath-Thabaqat (11/93) dan Ibnu al-’Ammad dalam kitab asy- Syadzarat (VI/169) telah menyebutkannya.

37. Hukm Tafdhil Ba’d al-Awulad ‘ala Ba’d fi al-’Athiyah. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Tahdzib as-Sunan.

38. Ad-Da’ wa ad-Dawa’. Telah dicetak berkali-kali dan dinamakan juga dengan al- Jawab al-Kafi liman Sa’ala ‘an ad-Dawa’asy-Syafi.

39. Dawa’ al-Qalb. ‘Abdullah al-Jabburi menyebutkannya dalam Fihris Maktabat Awuqaf Baghdad (11/369). Ada juga naskah dengan tulisan tangan oleh al-Jabburi dengan nomor 4732. Kemungkinan besar naskah ini adalah naskah kitab ad- Da ‘ wa ad-Dawa’. Meskipun demikian, lebih baik kita menahan diri dalam mengambil kesimpulan sebelum membaca transkrip naskah tersebut. Wallahu a’lam.

40. Rabi’ul-Abrar fi-ashshalah ‘ala an-Nabi al-Mukhtar. Al-Baghdadi menye butkannya dalam kitab Hadiyah al-’Arifin (11/272) setelah menyebutkan kitab Jala’u al-Afham.



41. Ar-Risalah al-Halabiyahfi ath-Thariqah al-Muhammadiyah. Ini adalah kumpulan bait-bait syair. Muridnya ash-Shufdi dalam al-Wafi bi al-Wafiyat (11/272), Ibnu Tughri Burdi dalam al-Manhal ash-Shafi yang masih dalam bentuk manuskrip (111/62), ad-Dawudi dalam ath-Thabaqat (IV93) dan Haji Khalifah dalam Kasyf azh-Zhunun (1/861) menyebutkannya.



42. Ar-Risalah asy-Syafi’iyah fi Ahkam al-Mu’awwidzatain. Muridnya ash-Shufdi dalam al-Wafi bi al-Wafiyat (11/272) dan Ibnu Tughri Burdi dalam al-Manhal as- Shafi (111/62) menyebutkannya.



43. Risalah Ibni Qayyim ila Ahad Ikhwanihi. Ditemukan satu naskahnya dalam kumpulan manuskrip perpustakaan al-Mahmudiyah di Madinah al-Munawwarah nomor 8/221 majami’ yang terdiri dari beberapa halaman dalam ukuran kecil.



44. Ar-Risalah at-Tabukiyah yang dicetak di Mesir dengan nama ini dan dicetak juga dengan judul Tuhfah al-Ahbab fi Tafsir Qawuluhi Ta ‘ala: wa ta ‘awanu ‘alalbirri wattaqwa wa la ta’awanu ‘alalitsm wal’udwan wa attaqullaha innallaha syadidul’iqab.



45. Raf’u at-Tanzil. Haji Khalifah dalam Kasyf azh-Zhunun (1/909) dan al-Baghdadi dalam Hadiyah al-’Arifin (11/158) menyebutkannya.



46. Raf’u al-Yadainfi ash-Shalah. Muridnya Ibnu Rajab dalam adz-Dzail (11/150), ash-Shufdi dalam al-Wafi bi al-Wafiyat (11/272), Ibnu Hajar dalam ad-Duraf al- Kaminah (IV/33), as-Suyuthi dalamBaghyah al-Wu’at (V63), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93), Ibnu al-’Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/168) dan Haji Khalifah dalam Kasyf azh-Zhunun (1/911).



47. Raudhah al-Muhibbin wa Nazhah al-Musytaqin. Ibnu Qayyim menulisnya dalam perjalanan jauh dari tanah air dan perpustakaannya. Kitab ini telah dicetak berkali- kali.

48. Ar-Ruh. Telah tersebar di kalangan beberapa penuntut ilmu bahwa kitab ini bukan karangan Ibnu Qayyim atau dia menulisnya sebelum berhubungan dengan Ibnu Taimiyyah.

Akan tetapi, orang yang menelaahnya akan menemukan kejelasan bahwa kitab ini adalah karangan Ibnu Qayyim dan ditulisnya setelah berhubungan dengan Ibnu Taimiyyah. Yang menguatkan pendapat ini adalah bahwa Ibnu Qayyim telah menyebutkan kitab ini dalam kitabnya at-Tibyan. Ibnu Qayyim juga telah menyebutkan gurunya, Ibnu Taimiyyah kurang lebih sepuluh kali dalam kitab ar-Ruh dengan mengutip pendapat-pendapatnya serta menyebutkan pendapat yang dipilihnya.

Di samping itu, kita menemukan ada sekelompok tokoh autobiografer Ibnu Qayyim telah menyebutkan kitab ini dalam buku-buku karangan mereka. Mereka itu seperti al-Hafizh Ibnu Hajar dalam ad-Durar al-Kaminah (IV/23), as-Suyuthi dalam Baghyah al-Wu’at (1/63), Ibnu al-’Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/170), asy-Syaukani dalam al-Badr at-Thali’ (11/144), Haji Khalifah dalam Kasyfazh-Shunun (11/1421), al-Baghdadi dalam Hadiyah al-’Arifin (11/158) dan al-Alusi dalamJala’u al-’Ainain (him. 32).



49. Ar-Ruh wa an-Nafs. Ini bukan kitab ar-Ruh. Ibnu Qayyim telah menyebutkannya dalam kitab ar-Ruh, Mitah as-Sa’adah dan Jala’u al-Afham.



50. Zad al-Musafirin ila Manazil as-Su ‘ada ‘fi Hadyi Khatam al-Anbiya’. Ibnu Rajab dalam adz-Dzail (11/93), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93), Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/169), dan al-Baghdadi dalam Hadiyah al-Arifin (11/158).



51. Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-’Ibad. Ini telah dicetak berkali-kali di India, Mesir, Syiria dan terakhir diterbitkan dalam lima jilid.



52. As-Sunnah wa al-Bid’ah. Ahmad ‘Ubaid menyebutkannya dalam mukadimah kitab Rawudhah al-Muhibbin.



53. Sharh Asma’ al-Kitab al-Aziz. Ibnu Rajab dalam adz-Dzail (11/449), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/92) dan Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/169) menyebutkannya.



54. Syarh al-Asma’ al-Husna. Ibnu Rajab dalam adz-Dzail (11/450), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93) dan Ibnu al-’Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/170) menyebutkannya.



55. Syifa’ al-Alil fi Masail al-Qadha’ wa al-Qadr wa al-Hikmah wa at-Ta’lil. Ini telah diterbitkan.



56. Ash-Shabr wa as-Sakan. Haji Khalifah dalam Kasyf azh-Zhunun (11/1432) dan al-Baghdadi dalam Hadiyah al-Arifin (11/158) telah menyebutkannya.



57. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkam Ahl al-Jahim. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93), Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/169).



58. Ash-Shawaiqal-Munazzalah ‘alaaj-Jahmiyah waal-Mu’atthilah, satujilid. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93), Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/169), asy-Syaukani dalam al-





Badr at-Thali’ (117144), Haji Khalifah dalam Kasyf azh-Zhunun (11/1083), al-Baghdadi dalam Hadiyah al-’Arifin (11/158) dengan nama ash-Shawaiq al-Mursalah. Kitab ini belum diterbitkan, yang telah diterbitkan hanya kitab al-Mukhtashar karya Muhammad bin al-Maushili.



59. At-Tha’un. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/93), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93), Ibnu al-’Ammad dalam Asy-Syadzarat (W196) dan al-Baghdadi dalam Hadiyah al-Arifin (11/158).

60. Thibb al-Qulub. Az-Zarkali menyebutkannya dalam kitab al-A’lam (VI/280), Ahmad ‘Ubaid dalam mukadimah Rawudhah al-Muhibbin dan dia berkata, “Profesor Ma’luf menyebutkan bahwa ada satu naskahnya di Berlin.”

61. At-Thibb an-Nabawi. Ibnu Qayyim menyatukannya dengan kitab Zad al-Ma ‘ad, tapi ia telah diterbitkan secara terpisah.

62. Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adatain. Telah dicetak beberapa kali. Ibnu Qayyim menyebutkan kitab ini dalam berbagai kitab karangannya dengan judul Safar al-Hijratain.

63. At-Thuruq al-Hukmiyahfi as-Siyasah asy-Syar’iyah. Telah dicetak ulang beberapa kali.



64. Thariqah al-Bashair ila Hadiqah as-Sarair fi Nazhm al-Kabair. Kitab ini tercantum dalam indeks buku-buku Auqaf di Baghdad dan disebutkan bahwa buku ini ada naskahnya yang sangat berharga ditulis tahun 811 H.



65. Thalaq al-Haidh. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitab Tahdzib Sunan Abi Dawud.



66. ‘Uddah ash-Shabirin wa Dzakhirah asy-Syakirin. Ini telah dicetak berulang kali.



67. Aqd Muhkam al-Ahibba’ baina al-Kalam at-Thayyib wa al-Amal ash-Shalih al- Marfu’ ila Rabb as-Sama’. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/ 449), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/92), Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/169) dan al-Baghdadi dalam Hadiyah al-Arifin (11/158).



68. Al-Fatawa. Al-Alusi menyebutkannya dalam Jala ‘u al- Ainain.



69. Al-Fath al-Quds. Ibnu Rajab dalam adz-Dzail (II450), ad-Dawudi dalam at- Thabaqat (11/93), Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/169) dan al-Baghdadi dalam Hidayah al-Arifin (11/158).



70. Al-Fath al-Makki. Ibnu Qayyim telah menyebutkannya dalam kitabnyaitoda’w al-Fawaid.



71. Al-Futuhat al-Qudsiyah. Ibnu Qayyim menyebutkannya dalam kitabnyaMiftah Daras-Sa’adah.



72. Al-Farq bain al-Khillah wa al-Mahabbah wa Munazharah al-Khalil li Qawumih. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450) dan Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/168).



73. Al-Farusiyah. Kitab ini adalah ringkasan kitab al-Farusiyah asy-Syar’iyah. Dan, telah dicetak di Mesir.



74. Al-Farusiyah asy-Syar’iyah. Ibnu Tughri Burdi menyebutkannya dalam a\-Manhal ash-Shafi (E/hlm. 93

75. Fahdl ‘Iim wa Ahlih. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450) dan ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93).

76. Fawadh fi al-Kalam ‘ala Hadits al-Ghamamah wa Hadits al-Ghazalah wa ad- Dhub wa Ghairih. Sebuah tulisan yang terdiri dari sembilan belas lembar dalam manuskrip perpustakaan azh-Zhahiriyah di Damaskus dengan nomor 5485. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam indeks perpustakaan halaman 100 juga menyebutkannya.

77. Al-Fawaid. Telah dicetak.

78. Qurrah ‘Uyun al-Muhibbin wa Rawudhah Qulub al-’Arifin. Al-Baghdadi menyebutkannya dalam Hidayah al-’Arifin (11/158).



79. Al-Kafiyah asy-Syafiyah fi an-Nahw. Pengarang Kasyf azh-Zhunun (11/1369).



80. Al-Kafiyah asy-Syafiyah fi al-Intishar li al-Firqah an-Najiyah. Telah dicetak beberapa kali. Kitab inilah yang dikenal dengan al-Qashidah an-Nuniyah.



81. Al-Kabair. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450), ad-Dawud dalam at-Thabaqat (11/93), Ibnu al-’Ammad dalam asy-Syadzarat (Vl/hlm. 168) dan al-Baghdadi dalam Hidayah al-Arifin (11/158).



82. Kasyf al-Ghitha’ ‘an Hukm Sima’ al-Ghina’.



83. Al-Kalam at-Thayyib wa al-’Amalash-Shalih. Telah dicetak beberapa kali di Mesir dan India dengan judul al-Wabil ash-Shaib min al-Kalam at-Thayyib.



84. Al-Lamhahfiar-Rad ‘alaIbni Thalhah. Al-’Allamahal-Manawimenyebutkannya dalam Faidh al-Qadir (1/116).

85. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’in. Ini telah dicetak dalam tiga jilid.

86. Al-Masail at-Tharablisiyah. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/ 449), ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93) dan Ibnu al-’Ammad dalam asy- Syadzarat (VI/169).

87. Ma’ani al-Hurufwa al-Adawat. Ash-Shufdi menyebutkannya dalam al-Wafi bi al-Wafiyat (11/271), Ibnu Tughri Burdi dalam al-Manhal ash-Shafi (11/62) yang masih dalam bentuk manuskrip, ad-Dawudi dalam at-Thabaqat (11/93), as-Suyuthi dalam Baghyah al-Wu’at (1/63) dan Haji Khalifah dalam Kasyf azh-Zhunun (11/ 1729).

88. Miftah Dar as-Sa’adah wa Mansyur Wilayah al-’Hm wa al-Iradah. Inilah kitab kita sekarang ini. Ibnu Qayyim menyebutnya dalam mukadimah dengan judul Miftah Dar as-Sa ‘adah wa Mansyur Wilayah AM al- ‘Urn wa al-Iradah. Kitab ini telah dicetak dua kali, tapi tanpa tahkik. Cetakan ini, sepanjang pengetahuan kami, merupakan naskah tahkik pertama.

89. Al-Manar al-Muniffi ash-Shahih wa ad-Dhaif. Ini telah berulangkali dicetak.



90. Al-Mawurid ash-Shafi wa az-Zhil al-Wafi. Al-Baghdadi menyebutkannya dalam Hidayah al-’Arifin (11/159) dan Ibnu Qayyim dalam kitabnya Thariq al-Hijratain.









91. Maulid an-Nabawi saw. Asy-Syaukani menyebutkannya dalam al-Badr ath-Thali’ (11/144) dan Shadiq al-Qannuji dalam at-Tajal-Mukallal. Al-Qannuji menyebutkan bahwa dia memiliki satu manuskrip dari kitab ini.

92. Al-Mahdi. Haji Khalifah menyebutkannya dalam Kasyf azh-Zhunun (11/1465).

93. Al-Muhadzab fi…. Haji Khalifah menyebutkannya dalam Kasyf azh-Zhunun (IV1914).



94. Naqd al-Manqul wa al-Mahk al-Mumayyiz bain al-Maqbul wa al-Mardud. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450), ad-Dawudi dalamath-Thabaqat (11/93), Ibnu al-’Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/168) dan al-Baghdadi dalam Hidayah al-’Arifin (11/159).



95. Nikah al-Muhrim. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/450), ad- Dawudi dalam ath-Thabaqat (11/193), dan Ibnu al-’Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/168).



96. Nur al-Mu’min wa Hayatuh. Ibnu Rajab menyebutkannya dalam adz-Dzail (11/ 450), Ibnu al-Ammad dalam asy-Syadzarat (VI/178) dan al-Baghdadi dalam Hidayah al-’Arifin (11/159).



97. Hidayah al-HayarifiAjubah al-Yahud wa an-Nashara. Ini telah tercetak beberapa kali.



Selain itu, di sana ada juga artikel atau tulisan tersendiri karya Ibnu Qayyim yang diambil dari buku dan karangan-karangannya. Misalnya kitab Bulugh as-Sulfi Aqdhiyatil-Rasulsaw. yang





disarikan dari kitab A’lam al-Muwaqqi’in, Tafsir al-Fatihah dari kitabMadarijas-Salikin, Tafsir al-Mu’awwidzatain dari kitabBadaiul-Fawaid, ar-Risalah al-Qabriyahfi ar-Radd ‘ala MunkiriAdzabil-QabrMinaz-Zanadiqah wal-Qadariyah dari kitab ar-Ruh.



Sebagian orang tidak mampu membedakan antara Ibnu Qayyim al-Jauziyah dengan Ibnu al-Jauzi karena kemiripan nama. Kesalahan ini telah berakibat pada penisbahan beberapa kitab karya Ibnu al-Jauzi kepada Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Kesalahan seperti itu terjadi karena kelalaian para penulis manuskrip atau karena perbuatan orang-orang yang sentimen terhadap Ibnu Qayyim al-Jauziyah.



Sebagai bukti adalah bahwa Ibnu al-Jauzi adalah Abdurrahman bin Ali al-Qursyi, wafat tahun 597 H. Meskipun dia adalah salah seorang ulama dari golongan Hanbali yang terkemuka dan banyak menulis, tapi dalam kajian masalah nama-nama dan sifat Allah SWT dia tidak mengikuti metode Imam Hanbal karena dia dalam hal ini menempuh metode takwil. Ini jelas bertentangan dengan metodologi Ibnu Qayyim sebab dia menempuh metode ulama salaf.



Di antara buku yang dinisbahkan kepada Ibnu Qayyim, padahal sebenarnya itu adalah karya Ibnu al-Jauzi, adalah kitab Daf’u Syubahit-Tasybih bi Akaffit-Tanzih. Kitab ini banyak memuat takwil yang keliru. Karena itu, dia terjerumus dalam ta’thil guna melepaskan diri dari noda tasybih (penyerupaan).



Allah Tabaroka wa ta’ala telah memberikan petunjuk kepada Ibnu Qayyim al-Jauziyah sehingga dia mengikuti langkah ulama salaf. Sebab itu, dia selamat dari noda tasybih dan bahaya

takwil. Dia menempuh cara ulama salaf di mana dia hanya menetapkan apa yang ditetapkan Allah SWT untuk diri-Nya dan apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya tanpa melakukan penyimpangan, tasybih dan ta ‘thil.



Demikian pula kitab Akhbar an-Nisa’. Kitab ini dinisbahkan kepada Ibnu Qayyim al-Jauziyah, padahal kitab ini dikenal sebagai karya Ibnu al-Jauzi.





WAFATNYA

Kitab-kitab biografi sepakat bahwa Ibnu Qayyim al-Jauziyah wafat pada malam Kamis setelah azan Isya’, tanggal 13 Rajab tahun 751H. Dia dishalati setelah shalat Zhuhur keesokan harinya di Mesjid al-Umawi, kemudian di Mesjid Jarah. Dan, dimakamkan di perkuburan al-Bab ash-Shaghir dekat makam ibunya di Damaskus.**



Maroji’ :

Terusin Bacanya......

Izl4m?c_ ArtiC3L


RAHMAT TUHAN DI TENGAH KEGERSANGAN



Makkah dan Madinah adalah dua kota suci di Arab Saudi, yang selalu ramai dikunjungi jutaan umat muslim setiap tahun untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah. Tapi kali ini saya tidak bercerita mengenai ritual ibadah Haji dan Umrah, karena teman-teman yang muslim pasti sudah tahu, dan teman-teman yang non muslim mungkin akan merasa asing. Saya akan bercerita tentang kedua kota ini saja.

Siapa pun yang akan datang ke Makkah dan Madinah pasti mendarat dulu di airport King Abdul Azis, Jeddah. Airport ini sangat besar, dengan arsitektur yang unik. Atapnya berbentuk tenda-tenda raksasa, yang bisa dibuka dan ditutup secara hidrolik. Saya tiga kali datang dan tiga kali pergi (1993, 2004, 2007) melalui airport ini, tapi rasanya selalu saja melalui pintu yang berbeda-beda.

Jeddah adalah kota perdagangan internasional yang besar dan modern. Di kota ini bermukin berbagai bangsa, muslim maupun non muslim. Jarak Jeddah – Makkah bisa ditempuh dengan mobil sekitar 2 jam. Di perbatasan kota Makkah, kita akan melewati pintu gerbang yang sangat besar, berbentuk Al Qur’an terbuka.




Pintu gerbang masuk ke kota Makkah, di atas jalan tol yang sangat lebar (foto : Ali Kazuyoshi Nomachi)

Kota Makkah terletak di atas bukit-bukit batu (betul-betul batu, bukan tanah). Konturnya naik turun, dan hampir semua bangunan berupa gedung bertingkat. Banyak gedung-gedung modern, tetapi bangunan lama pun masih bisa kita jumpai di segenap sudut kota. Di tengah kota Makkah, berdirilah masjid terbesar di dunia, Masjidil Haram, dengan Ka’bah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia ketika menjalankan sholat. Masjid ini terdiri atas 4 lantai, mampu menampung 2 juta jamaah, dan masih terus diperluas. Bisa dibayangkan seberapa besar masjid paling utama di dunia ini. Jika berada di dalamnya, kita tidak bisa melihat tepi-tepi masjid, saking besarnya masjid ini.

Masjidil Haram di waktu malam. Sekeliling Ka’bah penuh dipadati oleh umat yang sedang melaksanakan sholat (foto : Ali Kazuyoshi Nomachi)

Ka’bah yang berupa bangunan kubus dari batu selalu ditutup dengan kiswah, kain beludru hitam dengan kaligrafi ayat Al Qur’an berwarna kuning emas. Dulu kiswah ini dibuat dengan tangan oleh para pengrajin di Cairo, Mesir, namun sekarang sudah dibuat juga di Arab Saudi. Kiswah diganti setiap satu tahun sekali. Kiswah yang lama dipotong kecil-kecil, dan dibagikan sebagai tanda mata yang sangat berharga.

Terusin Bacanya......

mazhab menurut ulama fiqih



mazhab

Mazhab menurut ulama fiqih, adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu'. Ini adalah pengertian mazhab secara umum, bukan suatu mazhab khusus.[1]


Pembagian Mazhab

Mazhab yang digunakan secara luas saat ini antara lain mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi'i dan mazhab Hambali dari kalangan Sunni. Sementara kalangan Syi'ah memiliki mazhab Ja'fari, Ismailiyah dan Zaidiyah.

Sunni

Sunni atau lebih dikenal dengan Ahlus-Sunnah wal Jama'ah pada awal mula perkembangannya banyak memiliki aliran, ada beberapa sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in yang dikenal memiliki aliran masing-masing. Sampai kemudian terdapat empat mazhab yang paling banyak diikuti oleh Muslim Sunni. Di dalam keyakinan Sunni, empat mazhab yang mereka miliki valid untuk diikuti, perbedaan yang ada pada setiap mazhab tidak bersifat fundamental.

Hanafi

Didirikan oleh Imam Abu Hanifah, Mazhab Hanafi adalah yang paling dominan di dunia Islam (sekitar 45%), penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi'i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan).

Maliki

Didirikan oleh Imam Malik, diikuti oleh sekitar 25% muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara. Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk Madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup, dan meninggal di sana; dan terkadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits.

Syafi'i


Dinisbatkan kepada Imam Syafi'i memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia. Pengikutnya tersebar terutama di Indonesia, Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.

Hambali

Dimulai oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5% muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.

Syi'ah


Syi'ah atau lebih dikenal lengkapnya dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali pada awal mula perkembangannya juga banyak memiliki aliran. Namun demikian hanya tiga aliran yang masih ada sampai sekarang, yaitu Itsna 'Asyariah (paling banyak diikuti), Ismailiyah dan Zaidiyah. Di dalam keyakinan utama Syi'ah, Ali bin Abu Thalib dan anak-cucunya dianggap lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai khalifah dan imam bagi kaum muslimin. Di antara ketiga mazhab Syi'ah terdapat perbedaan dalam hal siapa saja yang menjadi imam dan pengganti para imam tersebut pada saat ini.

Ja'fari


Mazhab Ja'fari atau Mazhab Dua Belas Imam (Itsna 'Asyariah) adalah mazhab dengan penganut yang terbesar dalam Muslim Syi'ah. Dinisbatkan kepada Imam ke-6, yaitu Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Keimaman kemudian berlanjut yaitu sampai Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-Asykari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Ja'far ash-Shadiq. Mazhab ini menjadi mazhab resmi dari Negara Republik Islam Iran.

Ismailiyah

Mazhab Ismaili atau Mazhab Tujuh Imam berpendapat bahwa Ismail bin Ja'far adalah Imam pengganti ayahnya Jafar as-Sadiq, bukan saudaranya Musa al-Kadzim. Dinisbatkan kepada Ismail bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Garis Imam Ismailiyah sampai ke Imam-imam Aga Khan, yang mengklaim sebagai keturunannya.

Zaidiyah

Mazhab Zaidi atau Mazhab Lima Imam berpendapat bahwa Zaid bin Ali merupakan pengganti yang berhak atas keimaman dari ayahnya Ali Zainal Abidin, ketimbang saudara tirinya, Muhammad al-Baqir. Dinisbatkan kepada Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Setelah kematian imam ke-4, Ali Zainal Abidin, yang ditunjuk sebagai imam selanjutnya adalah anak sulung beliau yang bernama Muhammad al-Baqir, yang kemudian diteruskan oleh Ja'far ash-Shadiq. Zaid bin Ali menyatakan bahwa imam itu harus melawan penguasa yang zalim dengan pedang. Setelah Zaid bin Ali syahid pada masa Bani Umayyah, ia digantikan anaknya Yahya bin Zaid.

Khawarij

Mazhab Khawārij mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya karena melakukan takhrif (perdamaian} dengan Muawiyah bin Abu Sufyan yang mereka anggap zalim. Awalnya mazhab ini berpusat di daerah Irak bagian selatan. Kaum Khawārij umumnya fanatik dan keras dalam membela mazhabnya, serta memiliki pemahaman tekstual Al-Quran yang berbeda dari Sunni dan Syi'ah.



Terusin Bacanya......